Dikutip dari Fukihome, gaya minimalis adalah pendekatan desain yang memiliki nilai dasar penghematan dan peringkasan dekorasi. Hal ini dicapai melalui pemakaian furnitur fungsional dan benda interior berbentuk geometris dan kombinasi yang biasanya tidak lebih dari 2 warna.


Satu prinsip penting ketika membentuk konsep rumah minimalis, apalagi rumah minimalis 1 lantai, Bunda dan Ayah perlu membagi ruangan dengan ukuran yang pas. Di sini, jumlah penghuni rumah dan tamu misalnya, harus jadi pertimbangan. Untuk interoir, gaya minimalis cenderung menggunakan warna putih, hitam, dan abu-abu dengan bentuk geometri.

Selama ini, rumah minimalis sering dianggap banyak orang mudah diterapkan. Seperti kata penulis The Minimalist House, Joshua Becker, kebanyakan orang berpikir konsep minimalis adalah ketika kita menyingkirkan barang yang enggak diperlukan dari rumah.

“Mungkin untuk membuang majalah lama, furnitur yang rusak, barang yang sudah tak terpakai mudah. Tapi, ketika yang harus disingkirkan adalah benda bersejarah buat kita, itu bukan hal yang mudah,” kata Becker mengutip Becoming Minimalist.

Ketika anda memutuskan memiliki rumah minimalis 1 lantai, simak tips dari Becker berikut ini,

  1. Identifikasi tujuan ruang

Pada konsep minimalis, Becker menjelaskan tujuan sebuah ruangan harus jelas. Misalnya kamar tidur. Bunda dan Ayah perlu memutuskan apa fungsi dari kamar tidur? Jika untuk istirahat, maka peralatan seperti TV di meja rias bisa ditaruh di area lain.

“Tak cuma TV, gadget lain juga baiknya tak ditaruh di kamar tidur. Sebab, tujuan mengarah pada praktik dalam menerapkan konsep minimalis ini,” ujar Becker.

  1. Bedakan konsep meminimalkan dan merapikan

Bunda bisa jadi sering merapikan rumah sehingga rumah minimalis 1 lantai terlihat tertata. Tapi ingat, dalam rumah minimalis penghuninya perlu mengedepankan prinsip meminimalkan. Kata Becker, rumah yang rapi bukan berarti tidak ada barang yang tidak berguna.

Dengan kata lain, rumah rapi tapi nyatanya banyak barang yang sudah tak digunakan dan tetap disimpan, membuat konsep minimalis tak bisa diterapkan. “Pilih peralatan yang memang dibutuhkan dan yang tidak bisa dipakai atau dibutuhkan, baiknya singkirkan saja,” papar Becker mengutip No Side Bar.

Ketika Bunda dan Ayah bingung barang tertentu di rumah mau diapakan, beri diri sendiri 3 pilihan yaitu dipindahkan, direlokasi (misalnya diberikan pada kerabat), atau dibuang.

  1. Sederhanakan dinding

Usahakan untuk membuat dinding yang simpel dengan warna putih. Bila ada furnitur seperti lemari pajangan, jangan terlalu banyak karena itu bisa bikin ruangan terkesan penuh dan rentan berdebu. Baiknya, pilih lemari dan pajangan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Misalkan, pajangan oleh-oleh dari suami ketika ke luar negeri atau foto keluarga.

Usahakan juga memilih tirai yang simpel dan berwarna senada dengan dinding, misalnya putih. Sebab, tirai dengan desain rumit justru membuat suasana rumah tampak penuh. Hal terpenting, pilih tirai yang sesuai fungsinya.

  1. Atur ruangan dari yang sulit

Untuk menerapkan konsep minimalis, coba tata rumah dari hal yang mudah. Misalnya garasi atau loteng. Tak terlalu banyaknya barang atau pernak-pernik bisa membantu menciptakan suasana minimalis di rumah. Baru setelah itu, kata Becker, Bunda dan Ayah bisa mulai mengatur ruang tamu atau kamar tidur yang notabene berisi barang lebih banyak dan beragam.

  1. Ingat prinsip menghilangkan dan yang disuka

Ketika memutuskan punya rumah minimalis, kadang Bunda dan Ayah galau nih harus membuang peralatan atau perkakas yang selama ini dimiliki. Agar tak terlalu pusing memikirkannya, Bunda dan Ayah, kata Becker bisa menerapkan prinsip mana yang berguna dan itulah yang perlu dipakai.

“Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa minimalisme bukan tentang menghilangkan berbagai hal yang disukai, tapi menghilangkan hal-hal yang mengalihkan perhatian Anda dari hal yang disukai,” tegas Becker.